Senin, 30 Desember 2013

3

Resensi Novel Sebelas Patriot: CERMINAN PATRIOTISME DALAM LAPANGAN HIJAU



Judul Buku                : Sebelas Patriot
Penulis                        : Andrea Hirata
Penerbit                      : Bentang
Cetakan pertama      : Juni 2011
Tebal                          : 124 halaman
Harga                         : Rp 39.000,00
           
Tentunya sudah tidak asing lagi bagaimana riuhnya gegap-gempita para pendukung sepakbola tanah air pada Piala Asia (AFF) 2010 lalu. Serentak gema cinta tanah air dan nasionalisme bergaung dimana-mana. Apalagi ketika pada final turnamen, tim PSSI dihadapkan pada sang “musuh bebuyutan”, Malaysia. Maka kesebelas atlet PSSI pun seolah berubah wujud menjadi tentara-tentara Republik Indonesia yang siap mengganyang musuh. Tak peduli bahwa posisi jagoan-jagoan timnas didominasi oleh pemain-pemain impor hasil naturalisasi seperti Christian Gonzales. Seluruh nusantara dimabuk kepayang dalam euforia sepak bola tanah air.
            Novel Ketujuh Andrea Hirata yang berjudul Sebelas Patriot seolah menyambut manis fenomena di atas. Hanya saja makna dalam novel ini lebih dalam karena kecintaan sang tokoh Ikal dan ayahnya terhadap sepak bola tidak hanya didasari euforia semata. Lebih dari itu, sepakbola bagi orang-orang Melayu adalah cerminan keberanian dalam melawan kedzaliman penjajah Belanda. Andrea menjelaskannya dengan sangat dramatis pada halaman ke-6-7:
Waktu demi waktu berlalu. Tertindas di bawah penjajahan,rakyat menemukan caranya sendiri untuk melawan. Para penyelam tradisional melawan dengan membocorkan kapal-kapaldagang Belanda yang mendekati perairan Belitong. Para pemburu melawan dengan meracuni sumur-sumur yang akan dilalui tentara Belanda. Para imam membangun pasukan rahasia di langgar-langgar. Para kuli parit tambang melawan dengan sepakbola.

            Dan cerita heroik akan perjuangan buruh-buruh timah Melayu semasa kolonialisme Belanda, yang mungkin tidak akan pernah dicatat dalam buku-buku diktat sejarah sekolah bermula ketika Ikal menemukan selembar foto usang. Foto seorang pemuda gagah berwajah sedih yang tengah memakai seragam sepak bola dan memegang piala. Mengapa orang itu tidak terlihat gembira walau menggenggam piala kemenangan? Siapa gerangan pemuda itu? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Ikal dan membawanya dalam pencarian sejarah buruh-buruh timah Belitong di masa kolonial.
Diceritakan bahwa kekejaman dan diskriminasi Belanda terhadap pribumi pun sampai dibawa-bawa ke kancah olahraga. Distric beheerder Van Holden yang membawahi wilayah ekonomipulau Bangka dan Belitong mengadakan berbagai pertandingan olahraga yang menjadi ironi. Ironi karena pertandingan itu harus diikuti orang-orang pribumi dalam rangka memperingati hari ulangtahun seorang ratu dari negara yang sudah menghisap habis kekayaan alam dan harkat hidup mereka. Peraturan dasar dalam pertandingan itu sudah jelas: orang pribumi diharamkan untuk menang jika melawan tim Belanda. Jika hukum ini dilanggar, jelas hukuman mengerikan diasingkan ke tangsi dan dibuat cedera seumur hidup, membayangi para atlet pribumi saat itu. Politisasi olahraga ternyata sudah berlangsung sejak zaman colonial ratusan tahun lalu. Mungkin dari sanalah para elit politik kita belajar.
Di tengah olahraga yang telah dipolitisasi dan tekanan batin olahragawan lokal itulah tersebar berita tentang tiga anak muda, para kuli parit tambang, yang lihai bermain bola. Mereka bersaudara, dipaksa menggantikan almarhum Bapak mereka untuk bekerja rodi sejak belasan tahun. Si sulung berlaku sebagai gelandang, si tengah berperan sebagai penjaga sayap kanan, dan si bungsu adalah pemain sayap kiri yang memiliki tendangan halilintar.  Di lapangan sepak bolalah satu-satunya tempat dimana mereka bisa dengan merdeka mengekspresikan jiwa di tengah getirnya suasana penjajahan. Mereka kemudian dipanggil untuk memperkuat tim Belanda, tapi menolak hingga akhirnya dibuang ke tangsi untuk membangun mercusuar. Kemudian pada tahun 1945 kedudukan Belanda mulai terancam. Ketiga saudara itu dikembalikan untuk bekerja di parit tambang. Tanpa  menghiraukan larangan Belanda untuk bertanding dan hukum ‘pribumi dilarang menang’, ketiga bersaudara itu maju dan memporak-porandakan pertahanan tim Belanda. Saat itu untuk pertama kalinya orang-orang Melayu dapat mempermalukan dan menggilas kaum penjajah. Ribuan penonton Indonesia pun menyambut si bungsu yang berhasil mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan heroik itu. Dengan lantangnya, si bungsu berseru, “Indonesia! Indonesia!”
Namun, patriotisme itu harus dibayar mahal. Sang pelatih dan tiga bersaudara itu ditangkap, dikurung di tangsi, dan dikembalikan dengan fisik hancur. Tempurung kaki kiri si bungsu dihancurkan dan untuk selamanya ia tak bakal bisa bermain sepakbola lagi. Foto yang dipegang Ikal itu adalah foto si bungsu setelah memenangkan piala Van Holden. Dan betapa terkesimanya Ikal ketika tahu bahwa si bungsu itu ternyata adalah…
Tentunya akan lebih seru jika pembaca mengetahuinya dari buku aslinya. Seperti novel-novelnya yang terdahulu, novel tipis ini juga sarat akan pelajaran hidup dan motivasi. Sosok pemuda yang mempelajari sejarah dan menghargainya tercermin jelas dalam sosok ikal. Patriotisme dan heroism terlihat jelas dari cerita tentang Legenda Tiga Bersaudara. Pertandingan sepakbola pun bisa menjadi cerita kepahlawanan di tangan pemimpi keriting asal Belitong ini.
Kita pun juga akan dibuat terharu tentang bagaimana Ikal berusaha mencari nafkah sampai rela bekerja kasar demi membeli kaos asli Luis Figo bertanda tangan di Real Madrid, demi sang ayah tercinta yang diam-diam menggemari pemain Portugis itu di samping pemain-pemain PSSI. Kisah ini mengingatkan peresensi akan film The Terminal. Di film itu, Tom Hanks terlunta-lunta di bandara Amerika, setelah melakukan perjalanan jauh demi melengkapi tanda tangan pemain band jazz koleksi ayahnya. Sehingga tentu saja pembaca boleh berharap-harap bahwa kisah dari novel ini pun bisa segera diangkat ke dalam media audio-visual. Dan melihat promosi kover novel berjudul Ayah di akhir novel, bisa jadi novel tipis ini menjadi pengantar dari terbitnya kisah yang lebih lengkap lagi. Sama seperti novel Maryamah Karpov yang menjadi pengantar kisah Dwilogi Padang Bulan.
Novel ini dilengkapi dengan CD berisi 3 buah lagu, “Sebelas Patriot”, “PSSI Aku Datang”, dan Sorak Indonesia” yang syair-syairnya juga sangat heroik. Cocok didengarkan sambil membaca novel ini sehingga pembaca bisa semakin menghayati untaian kisahnya. Andrea Hirata menggubah sendiri lagu-lagu itu bahkan menjadi lead guitar dalam Band The Gila Bola asal Belitong yang dirangkul Andrea untuk menyajikan 3 lagu ini ke telinga penggemarnya.
Kita tahu bahwa keberadaan PSSI dikotori oleh bermacam isu politik. Apa yang sejatinya menjadi ajang olahraga untuk dinikmati ternyata bisa menjadi hal yang lain di mata para elit politik. Kejayaan PSSI pun kian tenggelam. Buktinya ketika pertandingan melawan Bahrain dan Qatar lalu, tim Christian Gonzales dicukur habis. PSSI makin dicaci dan dihujat di tanah air. Ironisnya dukungan para suporter pada timnaspun ikut-ikutan loyo, mengikuti performa timnas itu sendiri. Pada pertandingan Indonesia vs Qatar lalu PSSI harus menanggung rugi karena banyaknya tiket yang dicetak tak sebanding dengan sepinya pembeli. Ditinggal suporter karena sering kalah akhir-akhir ini, maka apakah masih bisa kita menggembar-gemborkan semangat nasionalisme dalam sepakbola? Tampaknya kita harus malu pada kesederhanaan dua orang laki-laki dari Belitong, Ikal dan ayahnya, yang dengan setia tetap mendukung PSSI, kalah atau menang.

Satu hal yang sangat menggelitik, ternyata Andrea Hirata pernah mencoba jadi pemain PSSI? Apa sih yang belum pernah dicoba si Kriting yang satu ini? 

3 komentar:

Anonim mengatakan...

wah, keren... bbisa banyak belajar neh.... salam kenal mbak sy Sandi anggota Booklicious. Em, selain belajar resensi ntar juga belajar ngeblog ah :D

Muhammad Rasyid Ridho mengatakan...

saya belum pernah baca novel ini mba, entahlah yang gelas dalam kaca itu nggak habis saya hehe

Mizuki-Arjuneko mengatakan...

Mas Sandi: waaa...salam kenal di sini juga hehehe... Terimakasih sudah berkunjung Mas. Nanti insyaallah aku kunjungin balik :D

Ridho: Novel ini karyanya Andrea Hirata yang paling tipis kok. Baca aja. Asyik. Ringkas tapi tetap menggetarkan *promo hihihi

Posting Komentar

Salurkan Apresiasimu Di Sini Nyaaaw (^,^)v