Tampilkan postingan dengan label Fiksi Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Remaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2016

0

Protect The School - Let's Save Our School!: Ketika Murid Underdog Beraksi


Judul: Protect The School- Let's Save Our School!
Penulis: Kim Chi Hee
Kover: Andang
Penerbit: Sheila (Imprint dari Andi Publisher)
Cetakan Pertama: 10 Februari 2016
Tebal: 378 halaman
Harga: Rp 75.000,00 (Bisa dibeli dengan harga diskon 20% atau Rp 60.000,00. Hubungi penulis di tautan INI untuk informasi selengkapnya) 


Umumnya kita menilai kualitas seorang murid dari prestasi akademisnya saja. Karena itulah gap antara sekolah favorit dan sekolah "bukan favorit" banyak terjadi. Shinsung High School, sekolah khusus laki-laki di kawasan Daegu, Korea Selatan, yang jadi seting tempat novel ini malah mendapat cap "sekolah buangan". Para siswa sekolah ini terlibat tawuran hampir setiap hari. Murid-murid yang "terlanjur" masuk sekolah "buangan" selalu dicap sebagai manusia bermasa depan suram. Padahal, bukankah mereka bersekolah untuk memperbaiki nasib dan juga cara berpikir mereka?

Dalam novel ini, seorang remaja lelaki slebor bernama Lee Hongki, berandalan yang dicap lemot, ternyata justru memiliki kecintaan yang besar terhadap sekolahnya. Ia ingin mengharumkan kembali nama sekolahnya yang terlanjur hancur. Caranya? Dengan dua jalur non-akademis. Musik dan olahraga. Membuat band dan membentuk tim bisbol. Tapi untuk mencapai impiannya itu, ia jelas tak bisa sendirian.

***


Shinsung yang tadinya adalah sekolah unggulan langsung kehilangan pamor akibat kesalahan manajemen. Direktur sekolah pun ingin menjual sekolah itu. Tapi rupanya rencana tersebut ditentang keras oleh putri sang direktur, Yubin. Direktur lalu menantang Yubin untuk mengambil posisi dan tugasnya sebagai direktur sekolah, serta memperbaiki nama sekolah itu dalam waktu 6 bulan. Jika ia berhasil, maka sekolah tak jadi dijual. Yubin bahkan mengatakan ia sanggup melakukannya dalam waktu 3 bulan saja. Mungkinkah?

Namun, ternyata sang ayah memiliki dua agenda lain saat menantang Yubin. Yang pertama ada hubungannya dengan keinginannya agar Yubin bisa segera menikah! Yang kedua, ia sendiri mempertaruhkan berhasil-tidaknya Yubin dengan kawannya.

Yubin yang tak mengetahui tujuan tersembunyi direktur, lalu berusaha merevolusi atmosfer di Shinsung. Dengan kharisma dan kecantikannya, ia berusaha menaklukkan para guru (terutama guru laki-laki) serta murid-murid bandel di Shinsung.

Yang menarik, perubahan pertama yang Yubin usahakan dimulai dari para guru. Ya, karena para guru adalah contoh bagi siswanya kan. Nah, dalam novel ini diceritakan bahwa semua guru Shinsung sudah pesimis dalam mengatasi kebandelan para murid. Para guru senior bahkan sampai mengundurkan diri karena tak tahan lagi. Akibatnya, yang tertinggal di sana hanyalah para guru muda yang tak terlalu berpengalaman. Kalau gurunya saja sudah putus asa, bagaimana dengan muridnya? Karena itu masuk akal jika Yubin memulai revolusi pertamanya dari kalangan guru.

Yubin lalu membuat aturan agar para guru Shinsung berpakaian modis. Para guru perempuan diwajibkan berdandan dan untuk itu Yubin sampai memberikan fasilitas tutor make-up profesional! Sedangkan para guru laki-laki juga diminta mengubah penampilan dengan mengikuti program olahraga yang dibuat Yubin.

Dia juga merombak ruang rapat sekolah yang membosankan dan mendekorasinya agar terasa seperti ruangan di rumah yang nyaman. Langkah awal Yubin yang antimainstream ini jelas dipandang gila dan aneh oleh para guru.

Namun, sebenarnya strategi Yubin ini make sense juga. Guru perempuan diminta berdandan agar bisa tampil cantik dan menyegarkan di depan para murid Shinsung yang semuanya laki-laki. Sedangkan guru pria harus mengikuti program olahraga agar mereka bisa jadi contoh bagi para murid. Guru yang kusam dan loyo tentu dianggap tidak menarik dan tak bisa jadi contoh, kan?

Tentu tak cuma penampilan guru yang diurus. Yubin juga memberlakukan program pelatihan mengajar bagi para guru Shinsung. Ia memanggil tenaga pengajar dari luar yang sudah berpengalaman di bidang bidang pendidikan untuk melatih guru-guru Shinsung agar lebih andal dalam menyiapkan dan menjalankan materi pelajaran. Dan setiap satu bulan sekali diadakan ujian dan evaluasi bagi mereka. Jadi tak cuma murid yang diuji, guru pun juga. Good idea. Jadi beban "mengharumkan nama sekolah" tak hanya ditumpukan pada pihak murid. Meskipun begitu, seharusnya Yubin pun mempertimbangkan tingkat stress para guru yang mendapat tekanan dan tuntutan macam-macam ini.

Bagaimana dengan pendekatan terhadap murid? Yubin membagikan kuesioner kepada para siswa Shinsung, menanyakan kegemaran mereka. Dan hampir semua siswa menyatakan kalau mereka suka pelajaran musik. Sebagai direktur sekolah, Yubin pun memakai metode blusukan ala Jokowi. Maksudnya dia terjun langsung ke lapangan, mendekati para murid yang membolos di atap sekolah, mendukung kegiatan murid seperti OSIS, audisi band, dan persiapan pertandingan bisbol. Akhirnya ia melakukan pendekatan non-akademis untuk membuat para murid di Shinsung bersemangat dalam menjalani hari-hari sekolah mereka. Para siswa pun diwajibkan ikut ekskul.

Namun, ternyata Yubin sendiri malah dibuat pusing oleh Jae Jin, keponakannya yang suka menentang. Dan hatinya semakin dibuat tak keruan saat Kang So Hyun, "teman bertengkarnya" sejak masih SD tiba-tiba muncul di Shinsung dan mengatakan akan membantu Yubin dalam mengembangkan sekolah.

Dalam buku ini, meski digambarkan berkharisma, ada kalanya Yubin ditampakkan tidak stabil, pemarah, serta suka mengancam akan melemparkan barang-barang di sekitarnya kalau sampai ada yang berani membuat gara-gara dengannya. Dan itu dijadikan sebagai salah satu adegan komikal novel ini. Benar-benar khas kehebohan ala drama Korea.



Aku nggak tahu apa Yubin ini ada model karakternya. Tapi kalau yang dimaksud memang Kim Yubin dari Wonder Girls ini, wow. Gila juga kalau bisa punya direktur sekolah sesekseh ini XD
***

Kembali ke Lee Hongki. Ternyata anak badung ini punya kelebihan khusus. Saat menyanyi suaranya begitu indah dan penuh penghayatan, sehingga siapa pun yang mendengarnya pasti terpukau. Bakat musik Lee Hongki ini rupanya diwarisi dari ayahnya yang pernah bersekolah di Shinsung. Ayah Hongki pernah membentuk band indie bersama teman-temannya, dan mereka masih tetap eksis hingga lulus. Band itu begitu terkenal hingga sampai ikut mendongkrak popularitas sekolah. Sayang, saat akhirnya ditawari kontrak oleh perusahaan rekaman berlabel mayor, ayahnya malah meninggal. 

Ia tak sendiri. Jong Hun, sahabatnya yang dikenal pintar dan berkharisma ikut membantunya. Benar-benar paduan yang sangat kontras. Ngomong-ngomong, kenapa anak sepintar Jong Hun bisa terdampar di Shinsung? Itu karena kondisi keuangan keluarga Jong Hun membuatnya hanya mampu bersekolah di Shinsung. Alasan yang masuk akal. Kondisi yang banyak menimpa anak-anak di negeri kita juga. Jong Hun di sini digambarkan agak licik. Dalam artian, dia jago berkelit serta lihai memanfaatkan kelemahan Hongki. Gara-gara Jong Hun, Lee Hongki sampai terjebak dan terpaksa menjadi ketua OSIS. Bagaimana bisa? Simak di novel ini.

Yang jelas, dengan wewenang barunya sebagai ketua OSIS, berarti Lee Hongki bisa dengan leluasa menggunakan fasilitas sekolah untuk mewujudkan mimpinya, membuat band dan mengikuti audisi. Ia juga membantu Seunghyun merealisasikan impiannya untuk membentuk tim bisbol yang berprestasi di pertandingan antarsekolah. Dalam usahanya, ia juga dibantu oleh Jae Jin, keponakan direktur sekolah yang sombong. Jae Jin yang tadinya meremehkannya, langsung segan begitu tahu tahu Lee Hongki sangat jago berkelahi. Ada juga Choi Min Hwan, anak korban bully yang ternyata jago main drum dan menyimpan rahasia besar. Rahasia yang baru diungkap di akhir. Kemudian ada Song Seunghyun, mantan MVP (Most Valuable Player) klub bisbol saat SMP. Anehnya, ia menolak beasiswa dari sekolah yang tim bisbolnya adalah tim unggulan. Dan terakhir ada Oh Won Bin, anak berandalan yang tampaknya diam-diam tertarik pada YUBIN! Oh, dan jangan lupakan Kang Sohyun, musuh bebuyutan Yubin yang ternyata juga mantan anggota band ayah Lee Hongki. 

Alhasil novel bergenre teenlit ini tampil lumayan tebal (377 halaman) dengan cerita yang full pernak-pernik konflik setiap karakter yang dibuat detail. Plus bumbu adegan konyol dan (ehem!) fanservis bromance khas ala drama-drama Korea.

***

Dalam kehidupan nyata mereka, FT. Island bukan sekedar boyband. Mereka memainkan sendiri alat musik mereka di atas panggung.


Ada Lee Hongki, Jong Hun, Min Hwan, etc. Merasa familiar dengan nama-nama para tokoh di buku ini? Itu bukan perasaanmu saja. Novel ini sebenarnya adalah novel fanfiksi. Lebih tepatnya fanfiksi dengan para anggota band Korea Selatan, FT Island sebagai para tokohnya. Beberapa fakta anggota FT Island seperti Lee Hongki yang tubuhnya paling pendek dijadikan bahan guyonan di sini. Namun, jangan khawatir, yang bukan penggemar FT Island pun bisa mengikuti kisah novel ini. Tokoh yang paling berhasil membuatku bervisualisasi adalah tokoh Lee Hongki yang pernah memerankan Jeremy dalam drama You're Beautiful.

Dalam drama Korea itu Lee Hongki pun memerankan tokoh dengan sifat yang ceria dan konyol. Jadi setiap tokoh Lee Hongki di sini bertingkah ajaib seperti tertawa setelah berkelahi, salah menyebut nama atau gagal mengingat sesuatu, dan saat dikerjain Jong Hun, yang tergambar di kepala adalah wajah kocaknya sebagai Jeremy. Hehehe... 

Sebenarnya aku paling susah mengingat nama-nama orang Korea. Sering susah juga membedakan ini nama cowok atau nama cewek. Itulah mengapa meski adakalanya aku nonton film dan drama Korea, biasanya aku menghindari membaca novel dengan seting tempat Korea. Jadi waktu satu per satu tokoh di novel ini diperkenalkan, aku cuma berpikir, "Ugh... Here it comes again..." Tapi saat memperkenalkan para tokohnya dalam cerita ini, penulis sudah berusaha sebaik mungkin menggambarkan kontras karakter yang beragam, sederhana, tapi mudah diingat dan sesuai kebutuhan. 

Lapisan kepribadian para karakternya terlihat jelas. Ada Hongki yang berandalan, punya kemampuan otak yang sering bikin temannya mengelus dada, tapi ternyata punya semangat yang polos untuk memajukan sekolah yang terlanjur dicap buruk. Dan itu semua demi memperjuangkan kenangan atas ayahnya yang dulu sempat mengharumkan nama sekolah dengan band indie-nya yang populer. 


Hongki dengan ekspresi "bego" yang jadi trademarknya di novel ini.

Lalu ada Jong Hun yang jenius, tapi berasal dari kalangan keluarga kurang mampu, terkesan sadis, dingin, dan licik (terutama jika berhadapan dengan Hongki). Ada Jae Jin, anak orang kaya yang songong, sekaligus juga keponakan dari Yubin, sang direktur sekolah. Tapi ternyata ia pun punya sisi baik. Seperti saat mengkhawatirkan Hongki yang berkelahi dengan anak sekolah lain demi membela temannya. Padahal, saat itu sebenarnya Jae Jin sedang sebal dengan Hongki.

Jong Hun. Eh? Cakep yak!


Jae Jin. Hmm tampangnya memang pas banget buat meranin tokoh songong XD

Ada Won Bin yang awalnya diperlihatkan sebagai anak yang kurang ajar, tapi setia kawan dan tidak suka menindas (dia meminjamkan baju pada Min Hwan yang ketumpahan air ember saat menabrak Hongki). Btw, agak susah untuk nggak membayangkan Won Bin yang aktor Autumn Love/Endless Love itu tiap nama tokoh ini disebut. 

Oh Won Bin, yang kebagian peran berandal. Btw kalau nggak salah dia terus keluar dari FT. Island ya? Eh?

Ada Min Hwan yang inferior namun seiring dengan perkembangan cerita bisa jadi lebih percaya diri. Cuma ada beberapa adegan yang aneh, misalnya dia yang dari awal memiliki image sebagai anak penakut dan tak percaya diri karena jadi korban bully, ternyata bisa galak pada Seunghyun. Juga ada Seunghyun yang tampak ceria dan easy-going tapi ternyata menyembunyikan masalah yang rumit. Direktur sekolah Yubin pun kelihatannya galak, tapi ternyata ada sisi softnya juga. Plus, ternyata dia takut hantu walaupun bersikeras tak mau mengakuinya. 

Min Hwan, jati diri anak polos ini baru diungkap di bagian tengah novel. Dan ternyata dia adalah... well, baca sendiri deh

Seunghyung yang kebagian peran sebagai atlet bisbol MVP

***

Jadi gimana? Recommended, nggak? Well, kalau kamu suka dengan novel berseting Korea dengan adegan yang rame dan dinamis, novel ini bisa jadi pilihan yang bagus. Apalagi jika sedang bosan dengan kisah-kisah remaja bertema cinta. Karena sebagian besar elemen novel ini didominasi oleh tema persahabatan dan semangat anak muda dalam meraih mimpi mereka.

Terus ada kekurangannya, nggak? Setiap karya pasti ada lebih-kurangnya. Kalau masih penasaran dan pingin tahu bagian kritik yang kutulis untuk novel ini, langsung saja ke ulasan Goodreads-nya ya. Di paragraf-paragraf terakhir aku membedah plus-minus novel ini dengan lebih mendetail.

Selasa, 19 April 2016

6

Review My School Days Has Just Begun: Kisah Ngenes si Genius Femes



Kover light novel yang menampilkan tokoh Takahashi dan Satou (iya, Satou itu nama cewek. Nama keluarga)

Judul: My School Days Has Just Begun
Penulis: Okamoto Takuya
Ilustrator: Non (Yaay! Ilustrator yang sama dengan yang di The Shut Ins)
Penerjemah: Stellani Purwadihardja
Editor: Angga Mahardika SP
Penerbit: PT Shining Rose MEdia
Cetakan Pertama: Januari 2016
Tebal: 368 halaman
Harga: Rp 66.000,00



"Sekolahku adalah Sekolah Swasta Yaoyorozu Gakuen. Bila dibandingkan dengan sekolah lain, kegiatan klub di sekolah ini memegang peranan yang sangat penting. Persentase siswa yang ikut kegiatan klub dan komite sekolah melebihi 99,99%. Sampai ada sebutan, 'kalau tidak masuk klub maka orang itu bukan manusia'." (halaman 3)

Dan salah satu orang yang masuk kategori, 'bukan manusia' itu adalah Takahashi, tokoh utama kita. Seorang anak lelaki kelas 2 SMA dengan pemikiran suram dan super pesimis. Begitu suram sampai ia berpendapat bahwa cinta dan persahabatan hanyalah konspirasi perusahaan iklan. Ia sudah menyerah untuk melatih kemampuan komunikasinya dengan orang lain, sengaja tak bergabung dengan klub apa pun, dan malah mengembangkan berbagai teknik "Life Hack" yang membuatnya bisa bertahan di tengah gegap-gempita kawan-kawan sekolahnya yang begitu menikmati masa muda. Salah satunya adalah dengan bermeditasi, menghilangkan aura keberadaan di kelas saat jam istirahat. Jam istirahat adalah masa paling berat bagi Takahashi karena semua oranxg asyik saling berinteraksi kecuali dirinya.

Kesuraman dan kepesimisan itu sudah terlihat dari caranya mendeskripsikan bunga sakura yang mekar tepat di tahun ajaran baru. 

"...Bunga terindah yang ada di atas sana sekalipun, jika sudah menyentuh tanah akan kotor terinjak-injak oleh lautan manusia. Yang tadinya cantik pun, akan terlihat kotor." (hal 1-2). 
  
***

Penampakan halaman berwarna untuk pengenalan tokoh. Sayang kesannya jadi nggak rapi karena double spread. Lihat gambar wajah "Watabe" yang 'terbelah' (Kalau light novel The Shut Ins sih double spreadnya masih rapi karena halaman pengenalan tokohnya nggak sepanjang ini, plus dari sananya memang nggak 'membelah' bagian tubuh karakter). Akibatnya gambar mini poster  di belakangnya pun mengalami nasib yang sama. Usulan aja sih, Shining Rose bisa belajar dari format mini poster berwarna Penerbit Katalis Pustaka yang menerbitkan Narcissu. Poster mini dan pengenalan tokohnya nggak double spread. Tapi dipasang memanjang dari satu halaman. Meski terlipat, setidaknya gambar fullnya bisa dinikmati dengan lebih jelas)




Meski begitu, sebenarnya Takahashi pun seperti orang normal pada umumnya, ingin keberadaannya diakui, ingin memiliki masa muda yang indah.

Baiklah aku menyerah. Siapapun berikanlah aku hadiah. Sepaket hadiah yang berisi teman, pacar, dan hari-hari yang sempurna. (halaman 3).

Sebenarnya alasan Takahashi tak mau bergabung dengan klub apa pun itu bukan karena tak memiliki bakat. Justru, bisa dibilangnya bakat tersembunyinya sangat mencengangkan! Semasa SD ia bergabung dengan begitu banyak klub olahraga junior di sekitar rumahnya dan selalu menjadiace. Mulai dari baseball, sepakbola, sumo, sampai curling dan kabaddi! Belakangan diketahui kalau Takahashi pun menguasai judo. By the way apa itu curling dan kabaddi? Dalam light novel ini keberadaan catatan kaki benar-benar membantu penjelasan informasi trivia yang bertebaran di sepanjang cerita. Curling itu olahraga/permainan di es yang berasal dari Skotlandia . Sedangkan Kabaddi adalah olahraga permainan tradisional India. Sudah itu saja. Tak perlu repot-repot Googling karena dua hal ini benar-benar cuma trivia alias muncul cuma sekedar pernyataan pendek. 

Dan bagaimana bisa ada orang yang sampai bikin klub junior curling dan kabaddi di Jepang? Di situ misterinya. Mungkin Jepang saat ini (terutama di kota-kota besar seperti Tokyo), benar-benar sudah mulai melting pot kaya di USA. 

Dari sini sudah mulai kelihatan "khayalnya?"

Tunggu sampai fakta soal Takahashi dibeber lebih lanjut. Nggak cuma jenius dalam bidang olahraga (saat masih SD), ketika SMP ia pun bergabung dengan begitu banyak klub kebudayaan dan meraih predikat jenius juga di masing-masing bidang. Mulai dari kare (kare???), rap, origami, ayatori, ramalan, astronomi, etc... etc...

Luar binasa bukan?

Anehnya, kejeniusan Takahashi hanya berlaku untuk kegiatan klub! Bukan kegiatan akademik. Bahkan saat ujian kelulusan SMP dan masuk SMA pun ia harus belajar mati-matian di musim dingin agar bisa melewatinya, layaknya murid biasa lainnya. Padahal, klub-klub yang diikutinya pun berhubungan dengan bidang pengetahuan seperti sastra, astronomi, biologi, dan lain-lain. Ah, mungkin apa yang dia ketahui dari klub itu tidak muncul di ujian tertulis yah. Wajar sih.

Lalu kenapa orang secemerlang Takahashi bisa tersingkir dari pergaulan? 

[Spoiler Alert. Lewati bagian ini, jika tidak ingin membaca spoiler: 

Semua itu ada hubungannya dengan masa lalunya yang kelam. Ternyata kelebihan-kelebihan Takahashi tersebut tidak membantunya dalam memperoleh teman (dan menjadi teman) yang tulus. Karena merasa jago, Takahashi pun mulai memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan seenaknya. Alhasil tim dari berbagai klub olahraga junior itu pun menyingkirkannya satu demi satu. 


Setelah masuk SMP Takahashi melampiaskan rasa sepinya dengan bergabung di berbagai klub budaya. Tidak dijelaskan apa Takahashi pun semena-mena pada orang-orang yang kemampuannya ada di bawahnya. Sepertinya ia cukup belajar dari shock yang ia terima di masa SD. Tapi kali ini, justru karena ia terlalu serius dalam menekuni bidang-bidang itulah anggota klubnya jadi tidak tahan. Akhirnya ia pun terus sendirian sampai naik ke kelas 2 SMA. Spoiler Ends]

Saat ia sudah putus asa itulah, sesosok malaikat (atau iblis???) imut bernama Satou muncul. Gadis yang merupakan anggota OSIS di bagian pengelolaan klub ini tiba-tiba saja mendekati dan membombardir Takahashi dengan pengetahuannya soal masa lalu cowok itu. Tidak jelas darimana dia bisa dapat pengetahuan sedetail itu. Soal itu sampai akhir pun tetap jadi misteri. Jadi simpulkan saja kalau dia dapat wangsit langsung dari pengarang. Nah, Satou ini ternyata berambisi menjadi ketua OSIS, dan untuk itu ia butuh dukungan dari berbagai macam klub sekolah yang jumlahnya sampai melebihi 1000! (DANG!) Satou berniat memanfaatkan kejeniusan Takahashi untuk mendapatkan dukungan klub-klub tersebut. Caranya adalah dengan membuat satu klub baru yang fungsinya adalah menyelesaikan masalah klub-klub lain. 

Apakah Takahashi langsung mengiyakan?
  
Sebagai cowok, dia jual mahal dulu tentu. Apalagi Satou kentara sekali ingin memanfaatkan Takahashi. Saat ditanya keuntungan apa yang akan didapat Takahashi jika membantunya jadi ketua OSIS, Satou malah menampakkan wajah datar. Setelah itu dia malah pura-pura tak kenal dengan Takahashi. Kaget karena Satou tak segigih itu dalam memperjuangkan dukungannya, akhirnya malah gantian Takahashi yang sampai bersujud-sujud demi bisa bergabung dengan Satou. Laaaaah? Sampai di sini aku langsung jengkel sama Satou. Baik di dunia fiksi maupun di dunia nyata, aku paling anti sama tukang manipulasi begini. Susahnya... kalau nggak gitu cerita ini jadi nggak lucu hhiaaah.

***

Klub Takahashi resmi dibuat. Berkat bantuan cewek bernama Watabe, kenalan Satou dari klub media massa, iklan bahwa klub Takahashi bisa menyelesaikan berbagai permasalahan klub mulai mendapat respon. Klien pertama mereka adalah klub ramen yang membuka warung ramen dan sepi pengunjung. Berkat nasihat Takahashi agar mereka menyesuaikan cita rasa, harga dan porsi ramen untuk anak SMA, klub ramen berhasil diselamatkan. Lalu... datanglah permohonan dari klub soba, klub udon, dan nagashi somen. Semuanya klub mie! Huahaha... Klub di Yaoyorozu Gakuen memang nggak ada yang beres!


Kemudian datang permohonan dari klub yang "lebih mainstream", klub judo. Takahashi ditipu Satou yang mengatakan bahwa sang ketua klub judo yang bernama "Inokuma Tatsutora" adalah perempuan. Tapi kan nggak ada yang bilang kalau "kemungkinan itu pasti benar"! Si Ketua judo tentu saja adalah lelaki besar dengan tenaga monster. Karena judo sudah mewarnai kesehariannya sejak kecil, dia sampai punya refleks membanting orang-orang yang mendekatinya. Akibatnya semua anggota klub harus dirawat di RS! Dan demi membantu Inokuma untuk mengontrol refleksnya ini Takahashi nyaris kehilangan nyawa.



"Takahashi kun, siapa bilang kalau Inokuma Tatsutora chan itu laki-laki?" pancing Satou agar Takahashi bersedia memenuhi permintaan tolong dari klub judo.  Demi memenuhi "jalan judo" (atau panggilan hormon???) Takahashi pun menemui Inokuma chan dan mendapat kejutan."

Yang janggal memang bagaimana Takahashi bisa dengan mudah "recalling" dan "summoning" semua kemampuannya dengan spontan. Padahal, diceritakan bahwa dia sudah lama nggak melakukan semua kegiatan itu. Misalnya, dulu aku suka sekali main kibor, sampai bikin lagu. Nggak latihan berapa bulan aja, jari-jariku akan terasa asing dengan tuts-tuts kibor (hiks).Sense-nya bisa aja kembali lagi, tapi butuh waktu. Orang yang jago martial arts sekalipun juga begitu. Lama nggak melatih jurus atau latih tanding dengan rekan, kemampuannya pun akan menumpul. 

Tapi Takahashi kan jenius. Jadi dia bisa dengan mudah melakukan lagi semua kemampuannya yang tak terasah itu. Asem sekali plot device Tensai Takahashi (si jenius Takahashi ini). Tapi sekali lagi, di situlah lucunya. Arrgh... 

***


Di luar dugaan, meskipun tahu dirinya dimanfaatkan habis-habisan (plus sering dilecehkan secara mental dan psikologis) oleh Satou, Takahashi menikmati kegiatannya yang baru. Dengan berada di klub itu, ia jadi bisa berinteraksi dan dikenal para anggota klub yang lain. Juga bisa memanfaatkan kemampuannya untuk membantu mereka. Mau tidak mau walau Satou adalah tokoh berhati kotor yang menyebalkan, kita jadi berterimakasih juga padanya (AARRGH).

Nggak ada yang nyangka kan kalau anak seimut Kazama san ini ternyata seorang kunoichi alias ninja perempuan? Demi merebut ruangan klub dan membangkitkan lagi klub ninja warisan dari kakaknya, dia menantang semua klub Yaoyorozu untuk bertanding, membuat kekacauan, dan mengancam akan membunuh Takahashi kun. Namun, pada akhirnya dia jadi satu lagi korban manipulasi Satou yang begitu berambisi jadi Ketua OSIS

[SPOILER ALERT. Lewati bagian ini jika tidak ingin membaca spoiler 

[Selain berusaha meraih dukungan para klub, dia ternyata berniat menghapus beberapa klub kecil yang anggotanya cuma sedikit dan kegiatannya tidak jelas. Satou melakukan hal ini pun ada alasannya. Seribu klub dalam satu sekolah! Bayangkan bagaimana repotnya sekolah dalam menganggarkan dana untuk mereka kan. Dan membludaknya klub ini juga gara-gara ketua OSIS yang bernama Ohanabatake, cewek super baik yang nggak bisa menolak permintaan siapa pun. Ketua OSIS seperti inilah yang posisinya ingin digantikan oleh Satou. Hal ini memicu pemberontakan klub. SPOILER ENDS]

Ohanabatake. Gadis "malaikat" yang bertanggungjawab mengubah Yaoyorozu Gakuen menjadi "surga" bagi lebih dari 1000 klub. Sekaligus membuat para pengurus OSIS menderita "neraka" defisit anggaran.

Dan akhirnya berujung pada disanderanya Satou. Takahashi yang meski menguasai ilmu bela diri ternyata benci kekerasannya pun terombang-ambing antara ingin menyelamatkan Satou atau pulang saja dan nonton rekaman serial TV sejarah!

***

Yeah, membaca light novel ini (sebagaimana light novel lainnya) harus sambil membayangkan dan menyesuaikan logika seolah sedang menonton anime di atas kertas. Untuk light novel ini, modelnya ya seperti nonton gag anime super ancur (dalam artian positif) seperti Chuunibyou Demo Koi Ga Shitai. Sifat suram Takahashi sendiri rasanya familiar dengan sifat tokoh utama di anime OreGaIru

Bahkan di author note, setelah epilog novel ini, pengarangnya sendiri bilang kalau dia menuliskan "cerita bodoh" ini sebagai refreshing karena sebelumnya mengerjakan serial yang lebih serius. Benar-benar seperti pelampiasan stress saja. Hahah... Stress yang menghibur orang lain.

Cerita ini cocok buat mereka yang sudah terbiasa dengan cerita gila ala anime-anime yang kusebutkan di atas, dan ingin mendapatkan sensasi letupan humor absurd di sepanjang ceritanya. Aku ngakak terus saat membaca light novel ini.. di depan rekan-rekan kerjaku saat jeda istirahat! Mereka sampai menatapku aneh.

Kekurangannya adalah... di satu titik, aku mulai merasa lelah dengan keabsurdan dalam cerita ini yang seolah tanpa jeda. Aku berharap ada twist yang mengharukan dan memancing perenungan seperti anime genre slice of life dan komedi yang lain. (Biasanya gag anime slice of life dimulai dengan keabsurdan yang mengocok tawa, diakhiri dengan perenungan yang bisa bikin menitikkan air mata. Tapi light novel ini absurd dari awal sampai akhir!) Selain itu ada beberapa bagian humor yang susah dimengerti karena ditulis dalam frase dan kalimat yang sangat panjang. Kalimat-kalimat panjang ini begitu menggganggu, tapi sepertinya dari aslinya pun begitu. Penerjemahnya pasti sudah berusaha dengan segala daya dan upaya untuk membuat narasi dan dialognya bisa dimengerti oleh pembaca lokal. Dan... membuat humor dari bahasa dan kebudayaan Jepang bisa tetap dimengerti oleh pembaca dari background bahasa dan budaya kita pun pastinya butuh usaha keras.

***
After Read
  
Pada akhirnya, keseluruhan cerita ini bisa menjadi perenungan tersendiri. Terutama soal hubungan antarmanusia. Sebagai individu, wajar jika kita ingin menonjolkan kemampuan diri di depan orang lain. Dan berada di atas biasanya rentan membuat kita menjadi sombong. Dan akhirnya dibenci. Namun, orang yang pernah terpuruk karena melakukan kesalahan seperti Takahashi pun bisa memiliki kesempatan untuk memperbaiki kepribadiannya kan?

Di sisi lain, pernahkah kita meremehkan usaha orang yang begitu terlihat sungguh-sungguh? Sadarkah kita mengapa dia berusaha begitu gigih dalam membuktikan dirinya? Mudah kita mencela dan mencibir. Baru jika orang itu sudah melejit dan melesat jauh di depan, barulah kita terkagum, terheran, atau malah yang lebih buruk.... merasa iri bahkan dengki?

 Ternyata bukan kemampuan dan kehebatan kita yang membuat keberadaan kita lebih berharga. Tapi bagaimana kita memanfaatkan kelebihan itu agar berguna bagi diri sendiri dan sekeliling kita. Seperti salah satu konsep dalam 7 Habits of Effective People, untuk sukses, kita perlu bersinergi dengan orang lain, dan belajar untuk menyelesaikan permasalahan secara win-win.

 Dan bagian favoritku di sini adalah saat tokoh bernama Kondou kun mengatakan justru karena ia awalnya tak bisa baseball, setiap keberhasilan yang bisa ia raih begitu berharga dan memicunya untuk berusaha lebih keras lagi sampai jadi benar-benar jago. Berbeda dengan Takahashi yang langsung bisa menguasai semuanya sehingga tidak merasakan pencapaian apa pun(kurang bersyukur kau, Nak Takahashi!)

Kita seringkali lupa bahwa di setiap hasil selalu ada proses. Dan bahwa proses tidak akan membohongi hasil... Sesuatu yang dipelajari dengan sekuat tenaga, justru terasa lebih berharga daripada terus melakukan hal yang mudah saja kan.

Menarik, ketika melalui kejadian-kejadian yang Takahashi alami di klub, hingga akhirnya dihadapkan pada orang yang pernah ia perlakukan buruk di masa lalunya, Takahashi kemudian bisa menyimpulkan, "Ternyata dulu aku pun tak bagus-bagus amat. Ternyata dulu aku orang yang menyebalkan ya."

Dan berawal dari kesadaran itulah, Takahashi mulai menghargai orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan melanjutkan hari sambil berpikir, "Masa sekolahku baru saja dimulai."

...By the way.... pengarangnya sendiri bilang kalau ini adalah karya yang "bodoh", tapi aku kok begitu serius sekali membahasnya. Jadi merasa bodoh sendiri. Huahuahuahauhau.

Kesan Tung-Tung setelah membaca Light Novel yang edan ini

Jika ingin melihat preview novel Bab 1-nya, langsung saja ke web penerbitnya di sini

Selasa, 31 Desember 2013

0

DUA MALAM DIBUAT MABUK DALAM PELAYARAN PERAHU KERTAS



Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dee (Dewi Lestari)
Penerbit: Bentang Pustaka & Truedee
Cetakan Pertama: Agustus 2009
Tebal: 456 halaman
Harga: Rp 69.000,00


Neko benar-benar nggak menyangka. Sudah hampir sebulan kiranya tak kunjung tergerak untuk segera menaiki Perahu Kertas yang dinahkodai oleh Dee, sekalinya iseng-iseng naik, eh malah terjebak di dalamnya selama dua hari berturut-turut. Kapten Dee telah membawa Neko mengarungi tempat-tempat seperti Sanur, Ubud, hingga Ranca Buaya. Kadang kala perahu itu bergerak meninggalkan samudra dan melayang di atas kota Bandung dan Jakarta. Pada akhirnya, pelayaran itu berhenti dan Neko pun kembali ke Malang dalam keadaan sempoyongan akibat mabuk kepayang. Awesome! Gelombang-gelombang kisah dalam dongeng Perahu Kertas sukses membuat Neko terombang-ambing (sampai minum Antimo berkali-kali) dan nyaris kesasar. 


Tadinya Neko kira Keenan sang pelukis akan langsung jadian dengan Kugy, si juru dongeng, setelah berkali-kali menghadapi proses munculnya pihak ketiga. Nyatanya kisah roman ini tidak selesai semudah itu. Agaknya Neko lupa bahwa novel ini memiliki ketebalan 444 halaman (434 untuk murni cerita). Lupa juga akan kenyataan bahwa Dee pernah meraih penghargaan The Most Playful Reader's Mind Writer. Menjelang puluhan halaman terakhir, Neko udah miris dan pesimis bahwa Kapten Dee akan membiarkan dua awak utama perahunya, Keenan dan Kugy, bersatu dan hidup bahagia selamanya. Neko sudah siap menelan cerita pahit akan kasih tak sampai. Neko sudah bersiap-siap menghela nafas untuk berhadapan dengan fakta bahwa tak selamanya kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan seperti dalam dunia dongeng. Bahkan dalam dunia dongeng sekalipun. Adakalanya dongeng indah tak berakhir indah.


Namun, tanpa tedeng aling-aling, ketika perahu ini sudah semakin dekat dengan kenyataan yang pahit itu, tiba-tiba Kapten Dee memutar kemudinya. Perahu kertas yang Neko tumpangi pun berbalik 180 derajat menuju ending yang Neko kira mustahil. Dan taraaaa…di sinilah Neko sekarang, menyumpah-nyumpah karena berhasil dipermainkan lagi oleh Dee. (Somebody please bring me Antimo or Antangin!) Ada bahagia, juga sedikit rasa sebal dengan ending pelayaran ini. Keenan dan Kugy pun berhigh five di depan Kapten Dee yang berseloroh melalui senyumnya, "Rasain lu, udah mabok kena perahu kertas gue."
SIAL!
*****


Hah? Dee nulis teenlit populer? Begitu pemikiran Neko saat membaca sinopsis di kover belakang Perahu Kertas.


Namanya Kugy. Mungil, pengkhayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.
Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.
Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan.
Akankah dongen dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?

 
Sinopsis itulah yang membuat Neko mengacuhkan perahu ini selama satu bulan. Saya sudah membaca Ketiga seri Supernova, Filosofi Kopi, sampai Rectoverso. Sekarang Dee malah membuat cerita dengan konsep se-simple dan seklise ini? Come on!


Yah, berapa banyak formula cerita-cerita roman yang diramu dengan larutan "cewek aneh ketemu pangeran keren nan tampan"? Dalam perahu ini, awak kapal yang aneh itu adalah Kugy, cewek buta fashion dengan pemikiran kanak-kanak yang terbungkus acak dalam casing seorang mahasiswi Fakultas Sastra yang bercita-cita menjadi penulis dongeng. Lalu sesuai dengan sinopsisnya, pangeran tampan yang memancarkan pesona fisik alami (blasteran Belanda bow!) yang terdampar di perahu ini tentu saja Keenan.



Versi cover yang lain. Neko sih lebih suka yang ijo. Bagaimana dengan kamu?
    
Dan kemudian silih berganti hal-hal yang saya anggap klise khas teenlit atau chicklit mengisi lembar-lembar pertama novel ini. Keenan yang berkeinginan menjadi pelukis tapi ditentang sang ayah lalu dipaksa kuliah di jurusan manajemen. Persahabatan Kugy, Noni, dan Eko . Surat-surat dalam perahu kertas yang dilayarkan oleh Kugy untuk Dewa Neptunus, dan akhirnya sang pangeran (Keenan) pun tertarik dengan Kugy, si Mother Alien. Dialog-dialog ringan pun mengalir. Neko tetap bertahan, menanti-nanti sang Nahkoda memperlihatkan ciri khasnya yang sesungguhnya. 


Kugy tertarik dengan bakat melukis Keenan. Di saat yang sama, Keenan pun tertarik dengan dongeng-dongeng unik yang ditulis Kugy. Ia lalu melukis karakter-karakter berdasarkan cerita itu. Alhasil, Kugy pun terharu dan hoplaaa… munculah bibit rasa suka di hati mereka berdua. Namun, bibit itu tak dengan mudahnya saja berkembang, karena Kugy sudah memiliki Joshua atau Ojos. Baiklah…cinta segitiga pun dimulai. Di tengah-tengah kebingungan Keenan dan Kugy, Kapten Dee menambahkan konflik menjadi cinta segiempat dengan memunculkan Wanda. Wanda adalah seorang kurator lukisan muda yang naksir setengah mati pada lukisan Keenan dan juga pelukisnya. Wanda yang Miss Perfect, cantik, berselera fashion tinggi dan mengerti benar dunia Keenan sukses membuat Kugy minder dan pelan-pelan mundur teratur. Sering dengar situasi ini kan di chicklit-chicklit? Tokoh utama dibuat berkecil hati oleh kedatangan pesaing yang memiliki kelebihan dalam segi fisik. Neko hanya menghela nafas, tapi tak juga memutuskan untuk mengakhiri pelayaran ini.


Situasi semakin menyesakkan bagi Kugy ketika Noni dan Eko (pacar Noni), sahabatnya, berniat untuk mencomblangi Wanda dengan Keenan dan…berhasil! Dari sini konflik psikologis yang diderita Kugy diperlihatkan begitu ekstrim. Gadis yang dijuluki Mother Alien pun pelan tapi pasti mulai mengalienasi dirinya dari orang-orang terdekatnya. Eko, Noni, dan tentu saja Keenan mulai bertanya-tanya, tapi Kugy tetap bungkam dan terus menjauh. Di saat yang sama Keenan memutuskan untuk mengambil keputusan paling ekstrim sepanjang hidupnya: berhenti kuliah. Keenan memutuskan untuk memilih melukis sebagai jalannya setelah keempat lukisannya yang dipajang di galeri seni bergengsi, Warsita, milik ayah Wanda laku terjual. Keputusan ini berarti Keenan melawan ayahnya dan akhirnya didepak dari rumah. 


Keenan lalu memutuskan untuk hidup prihatin dengan pindah ke kamar kos yang sangat kumuh, sementara ia menyiapkan diri untuk pameran lukisan di Jakarta yang dijanjikan Wanda. Mulai dari sini Neko mulai menahan nafas. Pasalnya keempat lukisan itu sebenarnya laku karena dibeli sendiri oleh Wanda. Bukan oleh kolektor lain yang memang tertarik dengan bakat anak muda itu. Keenan sudah DO dari kuliahnya, didepak oleh ayahnya, dan menjadi semakin kurus karena harus menghemat ini-itu sejak tinggal di tempat kosnya yang pengap. Apa jadinya bila ia tahu kebohongan Wanda???


Kugy yang semakin frustasi akan perasaannya sendiri memutuskan untuk mulai menyibukkan diri dengan mengambil SP dan semakin serius dengan kuliahnya. Ia lalu menjadi sukarelawan di Sakola Alit, sekolah yang dirintis oleh teman-temannya bagi anak-anak buta huruf di sebuah desa yang terpencil di Bandung. Di sana ia berhasil merengkuh hati murid-muridnya yang bandel dengan metode menulis dongeng. Ia menulis buku dongeng tentang kehidupan anak-anak sekelasnya untuk memotivasi mereka belajar membaca. Terciptalah dongeng Jendral Pilik dan Pasukan Alit. Setelah menyelesaikannya, buku pertama dongeng itu berpindah tangan kepada Keenan. Kisah-kisah di dalamnya menginspirasi Keenan dan membuatnya menemukan karakter yang kuat bagi lukisan-lukisannya. Terciptalah lukisan Jendral Pilik dan Pasukan Alit.


Kesibukan Kugy membuat perhatiannya terhadap Keenan teralih sekaligus menyeretnya semakin menjauh dari kedua sahabatnya, Eko dan Noni, juga pacarnya, Ojos. Hebatnya lagi Kugy tetap teguh untuk menanggung semua beban hatinya sendirian. Puncaknya tidak hadir di pesta ultah Noni. Pasalnya pesta itu diadakan di rumah Wanda. Persahabatan yang telah terjalin selama 20 tahun pun retak sudah. Di saat yang sama, Keenan pun juga retak setelah kebohongan gigantis Wanda dibongkar sendiri oleh pelakunya dalam keadaan mabuk. Keenan langsung mengembalikan cek hasil penjualan keempat lukisannya kepada Wanda dan menghilang.


Keenan benar-benar mencapai titik paling nadhir hidupnya. Tanpa uang, keluarga, harapan dan kebanggaan, ia memutuskan untuk membuang mimpinya. Berhenti melukis. Hal yang justru membuat Kugy semakin tidak simpati. Keenan pun makin terpuruk. Untungnya, sebelum pangeran kita semakin frustasi dan akhirnya memutuskan bunuh diri dengan melompat keluar dari Perahu KertasKapten Dee segera bertindak. Buru-buru ia mengirim Keenan ke Ubud dengan sekoci. 


Setelah Keenan mengetahui kebohongan Wanda, dengan hati hancur, ia mengirimkan keempat lukisannya yang tadinya dibeli Wanda dan lukisan Jendral Pilik ke Poyan (Paman) Wayan di Ubud. Wayan adalah seorang seniman Bali yang merupakan sahabat lama ibunya. Orang yang sudah menjadi ayah kedua baginya. Saat mengirimkannya, Keenan tak menduga bahwa satu dari kelima lukisan itu akan segera membawa titik balik dalam hidupnya. Paman Wayan memajang lukisan Jendral Pilik dan Pasukan Alit, dan segera laku seharga tiga juta, dibeli oleh seorang kolektor. Mengetahui hal itu, Keenan pun memutuskan untuk mengejar kembali mimpinya di Ubud.


Di sana ia bertemu Luhde, seorang remaja keponakan Wayan yang menyimpan pemikiran mendalam di balik penampilannya yang lugu dan belia. Luhde adalah karakter favorit saya, karena kata-katanya sangat dalam untuk dijadikan bahan kontemplasi. Luhde adalah bagian dalam cerita ini yang akhirnya terasa "Dee banget" bagi saya. Ketika Keenan merasa ragu karena tidak bisa menghasilkan lukisan lagi, Luhde berkata-kata:


"Pelukis yang baik bisa mengungkapkan semuanya, termasuk kekosongan sekalipun."

"Kadang-kadang kanvas kosong juga bersuara. Tanpa kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu."

Ketika Keenan mulai kehabisan ide untuk melukis, Luhde berkata:

"Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar."

Ketika Keenan terkenang akan Kugy, Luhde menyentak kesadaran lelaki itu dengan berujar:

"Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan."


Keenan teringat akan buku dongeng Jendral Pilik dan Pasukan Alit yang terus menemaninya sampai Ubud. Berbekal buku itu, ia pun melukis dan melukis lagi. Memvisualisasikan dongeng-dongeng Kugy di atas kanvas. Kolektor lukisan yang pertama kali membeli lukisan Jendral Pilik datang lagi dan kembali membeli lukisan-lukisan Keenan. Berawal dari situ, kolektor-kolektor lukisan lain pun mulai memburu lukisan Keenan. Keenan pun lalu menjalin hubungan dengan Luhde. Lembaran baru bagi Keenan pun dimulai.


Sementara itu di Bandung, Kugy akhirnya putus dengan Ojos dan pindah kos karena tidak tahan terus perang dingin dengan Noni. Saat ia ngebut menyelesaikan skripsi, Eko banyak membantunya dan justru membuat Noni cemburu dan semakin memusuhi Kugy. Akhirnya setelah dilabrak Noni, Kugy memutuskan untuk hengkang ke Jakarta dan memulai karir barunya sebagai copy writer di sebuah perusahaan periklanan. Ia bertemu dengan Remi, atasannya yang populer yang kagum dengan keunikan Kugy. Apalagi setelah Kugy berhasil membuat presentasi yang sangat bagus bagi sebuah produk perusahaan kelas kakap. (yah lagi-lagi pola cowok keren naksir cewek aneh berulang). Kugy pun mulai menjadi orang kepercayaan kantor dan berulang kali diserahi tanggung jawab sebagai project leader. Hubungan Kugy dan Remi naik tingkat, dari atasan-bawahan, menjadi sepasang kekasih. Lembaran baru bagi Kugy pun dimulai.


Pola cinta segiempat yang samar berulang. Kenapa samar? Karena baik Keenan dan Kugy agaknya secara alam bawah sadar terus mencintai walau sudah menjalin hubungan dengan orang lain di tempatnya masing-masing. Hal ini ditunjukkan dengan Keenan yang tak bisa lagi melukis saat semua kisah dalam buku dongeng Kugy selesai ia lukiskan di atas kanvas. Lalu ibu Keenan datang ke Ubud untuk mengabarkan bahwa ayahnya menderita stroke dan lumpuh total. Keenan kembali ke Jakarta dan mengambil alih kepemimpinan perusahaan untuk sementara. 


Noni akhirnya mengerti alasan Kugy bertingkah aneh selama ini setelah menemukan dan membaca sebuah buku dongeng yang dibuat Kugy untuk hadiah ulangtahun Keenan. Noni pun berinisiatif untuk menyambung kembali persahabatan yang telah putus, setelah tiga tahun lamanya… Diam-diam Noni dan Eko pun mengatur pertemuan Keenan dan Kugy di pesta pertunangan mereka.


Keenan dan Kugy lalu sepakat untuk bekerjasama membuat proyek untuk memperkenalkan Jendral Pilik dan Pasukan Alit kepada khalayak dalam bentuk buku dongeng berilustrasi sekaligus pameran lukisan. Kugy memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai copy writer, dan fokus pada mimpinya sejak kecil: menulis dongeng. Kali ini Keenan yang menyertainya membuat Kugy lebih bersemangat. Kemudian sedikit demi sedikit pun terkuak bahwa Remi adalah pembeli pertama lukisan Keenan (yah sudah nebak sih), alasan ayah Keenan tidak menyetujui Keenan melukis dan semua itu berhubungan dengan masa lalu ibu Keenan dan Wayan.


Pola kedua ini berbeda dengan pola cinta segiempat yang pertama ketika pembaca dibuat sulit untuk bersimpati kepada pihak intruder Wanda dan Ojos. Remi dan Luhde adalah tokoh-tokoh yang mendampingi dua karakter utama dalam mengembangkan diri masing-masing. Remi dan Luhde menyertai kedua tokoh utama ketika jatuh dan frustasi, mengobati luka hati mereka berdua. Karena itu walaupun akhirnya Kugu dan Keenan saling mengakui ketertarikan mereka pada satu sama lain (ya ampuuun lemot banget sih dua orang iniiii >_<), hal itu justru makin menyesakkan mereka. Tak mungkin bagi mereka untuk bersatu selamanya dalam kondisi seperti ini.


Pada akhirnya ending kisah ini pun ditentukan dengan untaian kata, "Hati tak perlu memilih cinta, melainkan dipilih oleh cinta." Afterwords, ternyata memang mustahil mengharapkan sesuatu yang benar-benar klise dari seorang Dee. 


Nb: Thanks for Angie Pritha. Sebelum menemukan keberadaan novel ini di rak buku kamarnya, Neko nggak pernah nyadar kalo novel Perahu Kertas yang bertebaran di Gramedia itu ditulis oleh Dee. Hehehe

Note: 

Novel ini mendapatkan nominasi untuk Khatulistiwa Literary Award untuk Kategori Fiksi (2010), dan juga mendapat Anugerah Pembaca Indonesia untuk kategori Sampul Buku Fiksi Terfavorit (2010)

Resensi ini dibuat pada 6 Juni 2010. Waktu itu Neko publish di blog flpumpublishing...