Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

1

Negeri Bawah Air: Tentang Persahabatan, Pengertian, dan Kehilangan



Judul: Negeri Bawah Air
Penulis: Ary Nilandari
Ilustrator isi dan kover: K. Jati
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan Pertama: 2009
Tebal: 160 halaman
Harga: Rp 35.000,00 (Bisa didapat dengan harga diskon 10% di sini)



Setahu saya, jarang ada buku anak-anak buatan pengarang Indonesia yang tema ceritanya soal mental health awareness issue. Sementara itu saya sempat tercengang saat buku-buku anak terjemahan baik buatan pengarang barat maupun Asia membawa isu soal perceraian, elective mutism, autisme, anak-anak yang sulit belajar, dan lain-lain. Menurut saya, tema-tema seperti yang dibawa oleh Negeri Bawah Air sebaiknya mulai diperkenalkan sejak dini, agar anak-anak bisa dididik lebih peka terhadap penderitaan kawan sebayanya. Agar tak mudah mencap dan menjauhi kawan-kawannya yang mungkin "sedikit berbeda" dengan mereka.


Awalnya saat melihat kovernya saya mengira ini adalah petualangan anak-anak ke dunia fantasi yang ada di bawah laut. Lalu mengira ini adalah cerita tentang petualangan anak-anak yang terlibat dalam penyelamatan terumbu karang. Ternyata cerita ini menggabungkan antara dunia fantasi dan riil. Menariknya, seperti yang saya bilang di atas, ada muatan isu mental health awareness issue yang cukup serius dan mendalam di sini, dengan adanya kasus traumatis yang dialami tokoh bernama Meutia. Elemen masalah psikologis pun ada pada tokoh-tokoh lain, meski lebih ringan, semuanya bisa dijalin menjadi satu kesatuan yang apik dan menyentuh hati. Kekuatan kisah imajinasi yang bercampur dengan dunia nyata dalam cerita ini mengingatkan saya pada film Bridge of Terabithia.


Hingga halaman 47, penulis memperkenalkan tiga tokoh anak laki-laki yang nantinya akan berperan sebagai para ksatria di sini. Ada Ridwan, anak yatim yang berdarah Sunda dan sangat gemar membaca, ada Chang anak Tionghoa kaya pemilik peternakan sapi di Lembang yang mengidap asma sehingga dunianya sering terkungkung di rumahnya yang mewah, dan ada Rambe yang berasal dari keluarga Tapanuli beranak banyak hingga dirinya sering merasa dilupakan oleh uma alias ibunya sendiri. Rupanya Mbak Ary Nilandari menyisipkan nilai Bhinneka Tunggal Ika di sini. Prinsip yang terus beliau pertahankan saat menulis serial Go Keo & Noaki yang sedang berlangsung saat ini.


Liburan mereka bertambah aneh sekaligus seru saat Rambe tak sengaja berkenalan dengan Meutia di halaman villa yang dulu ditempati Dr. Rahmat dan istrinya. Anak perempuan itu mengaku dirinya putri dari negeri bawah air dan berkata bahwa kerikil-kerikil kecil di halaman rumahnya adalah adik-adiknya yang kena kutuk penyihir jahat bernama Rangaswazir. Meutia pun menceritakan kronologi kisah yang panjang tentang bagaimana kedua orangtuanya terbunuh oleh konspirasi Rangaswazir yang tadinya menjabat sebagai perdana menteri. Rambe hanya bisa terbengong mendengar kisah yang sungguh ajaib itu. Apalagi saat Meutia memohon kepadanya untuk membantu menyelamatkan "adik kembar" Meutia yang sudah disihir jadi kerikil.


Cara Meutia menceritakan tragedi itu benar-benar terdengar meyakinkan meski elemen-elemen seperti negeri bawah air, manusia yang bisa bernapas dan berjalan di dalam laut, jelas fantasi. Sadarlah Rambe bahwa Meutia seolah tak bisa membedakan mana yang khayal dan mana yang nyata. Seperti adiknya yang masih kecil dan berumur empat tahun. Padahal, Meutia yang ada di hadapannya tampak sebaya dengan Rambe yang saat itu baru naik ke kelas 6. Menarik sekali membaca proses Rambe menganalisis dan mengira-ngira motif di balik khayalan Negeri Bawah Air Meutia. Ia sempat mengira anak itu adalah salah satu korban tsunami Aceh tahun 2004. Tapi apa itu benar??? Yang jelas Rambe merasa khayalan Meutia tidak biasa dan hal itu menerbitkan rasa ibanya.


Namun, perbincangan itu disela oleh kemunculan Ratna, sepupu Meutia yang langsung marah-marah saat tahu gadis itu menceritakan "khayalan ngawurnya" pada Rambe. Meutia histeris saat Ratna menarik tangannya dengan kasar sambil mengancam-ancam. Meutia berkata bahwa "Dayang Ratna sudah terkena kekuatan jahat Rangaswazir sehingga bersikap jahat padanya, seperti banyak orang yang ia kenal dari Negeri Bawah Air. Rambe pun pergi, namun ia kembali dengan membawa Ridwan dan Chang. Ketiga anak itu pun "menyulap" diri mereka menjadi Pangeran Ridwan Harris, Adipati Lim Kuo Chang dan Hulubalang Rambe Muhammad Ritonga demi membantu Meutia menghadapi ketakutannya terhadap Rangaswazir. 


"Pangeran" Ridwan yang ternyata dulu pernah kenal dengan Ratna sebelum gadis itu pergi ke Jakarta berusaha mengetuk hati gadis itu dengan menceritakan kesedihannya akan kematian sang ayah. Dengan mendengarkan cerita tentang ayah Ridwan, Ratna akhirnya berusaha memahami kesedihan yang dialami Meutia, dan mau ikut membantu ketiga ksatria memberantas teror Rangaswazir demi Meutia. Kelima anak itu pun berangkat menuju perang terakhir di curug "air suci". 


***

Setiap tokoh anak dalam cerita ini memiliki kesedihannya masing-masing. Kesedihan yang mendalam, terasa riil, dan mungkin sulit dipahami orang-orang dewasa. Chang yang terbelenggu oleh asma, Ridwan yang dibebani kematian ayahnya, dan Rambe yang merasa dilupakan ibunya.


SPOILER ALERT: Lewati bagian ini jika tidak ingin membaca spoiler

Tokoh anak perempuan pun punya masalah tersendiri. Meutia memilih melarikan diri ke Negeri Bawah Air sebagai kompensasi atas musibah yang merenggut keluarganya. Ratna ingin adik dan karena itu dengan senang hati menampung Meutia yang kehilangan keluarga sampai sepupunya itu jadi aneh dan memperlakukannya seperti dayang. (Spoiler ends)


Uniknya, seperti yang dikatan pengarang dalam blognya, memang tak ada pengaruh orang dewasa dalam masalah mereka. Kelimanya saling membantu demi mengobati luka hati masing-masing. Anak-anak ini juga digambarkan berpikir kritis untuk menganalisis dan memecahkan masalah. Dan karena peran orang dewasa tidak menonjol di sini, semuanya (kecuali Ratna) jadi tak memiliki prasangka terhadap masalah teman-temannya. Saya membayangkan, jika ada anak seperti Meutia dalam dunia kita, mungkin para orangtua sudah menyuruh Ridwan, Rambe, dan Chang menjauhi gadis itu dan menudingnya sebagai anak aneh atau sinting. 


Dan menyenangkan sekali membaca kisah soal anak laki-laki yang gentle dan humanis seperti Ridwan, Rambe, dan Chang hingga mau membantu Meutia menghadapi ketakutannya. Begitu gentlenya sampai saya merasa karakter mereka bertiga terasa utopis (kita sudah terbiasa dengan anak laki-laki yang usil dan bersikap kurang ajar pada anak-anak perempuan ^^v). Tapi... jika karakter-karakter dalam novel ini bisa ditanamkan pada anak-anak, alangkah menyenangkannya masa anak-anak. Trauma masa kecil, kasus bullying, dan hal-hal mengerikan yang menimpa dunia anak-anak saat ini mungkin bisa jauh berkurang.


Adegan paling lucu menurut saya adalah saat Chang merasa sesak napas di curug saat "berhadapan dengan Rangaswazir" dan berada di ambang maut. Meutia yang hanyut dalam perannya sebagai putri malah mengoceh soal Rangaswazir dan itu membuat Chang jadi sebal. Jadi ini adegan yang gawat, tapi jadinya malah kocak (dalam artian positif). 


***

Sayangnya, novel ini baru terasa menarik setelah 47 halaman awal terlewati, yaitu mulai dari adegan setelah Rambe bertemu dengan Meutia. Dari situ barulah misteri dalam novel ini begitu terasa menggugah rasa penasaran dan tampak jelas akan di bawa ke arah mana. Sebelumnya penulis memang menceritakan soal keseharian Rambe, Ridwan, dan Chang serta penguatan karakter dan ciri khas masing-masing tokoh. Tapi akan lebih baik jika misteri soal Meutia mungkin sudah disuguhkan sebagai gosip di awal cerita. Agar cerita lebih mengikat dari awal. Karena sebelum sampai di halaman 47 itu saya terus bertanya-tanya, "ini mana Dunia Bawah Air"nya? Setelah itu baru kepingan-kepingan puzzle mulai terangkai satu demi satu. Dan setelah itu, setiap kali membaca ulang novel ini, cerita rasanya jadi semakin haru dan memikat. 


Cara penulis dalam memberikan petunjuk atas apa yang sebenarnya terjadi pada Meutia juga menarik. Keping-keping puzzle diberikan melalui detail cerita yang ada. Mengajak pembaca ikut merangkai dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada Meutia. Benarkah dia anak korban tsunami Aceh? Apa yang sebenarnya terjadi pada orangtua dan "adik-adik" Meutia? Dan ketika semua rahasia terbuka di akhir, barulah kita bisa paham, oh jadi karena itulah ada elemen ini dan itu pada cerita Meutia.


Nama Rangaswazir sebagai tokoh antagonis di sini juga menarik. Diceritakan bahwa Rangaswazir adalah perdana menteri yang kemudian kehilangan wujud kasarnya setelah hatinya jadi busuk. Ia pun menebarkan ketakutan pada orang-orang dan anak-anak berhati lemah. 


Spoiler: Rangaswazir sendiri adalah simbol akan kekacauan yang menimpa dunia saat ini. Rangaswazir bisa mewakili apa saja, kelaparan, bencana alam, sifat rakus manusia, dll. Dan nama yang terkesan sangar ini menurut saya benar-benar permainan kata apik dari anagram "Wazir sangar". Sederhana tapi unik


Lalu, lebih baik jika adegan-adegan dalam cerita ini diberi jeda tanda bintang (***) di beberapa bagian. Terutama ketika ada pergantian adegan, tempat, atau waktu, atau sudut pandang penceritaan karakter. Pada beberapa bagian (meski tak semua), bagian-bagian itu begitu panjang tanpa jeda sehingga jika saat membaca kurang konsentrasi, perpindahan-perpindahan itu jadi agak membingungkan. Dan... agak susah saat membaca bagian cerita yang memperkenalkan konflik Rambe dengan keluarganya yang banyak itu. Ada banyak seliweran nama seperti Tagor, Oloan, dll yang diceritakan dalam satu frame sekaligus. Meskipun pada akhirnya nama-nama tersebut tak terlalu berperan dalam cerita.


Lalu awalnya sempat menebak-nebak di mana seting cerita ini, karena para tokohnya tampak multietnis. Baru kemudian pada halaman berapa puluh sekian disebutkan bahwa setingnya di Lembang. Jadi ingat film Petualangan Sherina hehe...  Sebaiknya kejelasan seting tempat dijabarkan dari awal agar pembaca bisa langsung membayangkan suasananya.


***

Buku yang ada pada saya ini adalah cetakan kedua tahun 2010. Jadi sudah langka dicari. Saya sendiri mendapatkannya setelah pesan dari toko buku online Belbuk. Tentunya asyik kalau buku ini bisa diterbitkan ulang. Namun, penulisnya mengalami kesulitan untuk melakukan hal itu, karena ternyata... penerbit Balai Pustaka sudah lama tutup dan... penulis kesulitan mengurus pengalihan hak terbit. Penulis sudah berusaha menghubungi pihak-pihak terkait namun... belum mendapat tanggapan yang berarti. Tentu bagus jika sesama penulis buku anak bisa bahu-membahu memberikan dukungan soal ini. Siapa tahu ada penulis-penulis lain yang bernasib serupa?


Kabar terakhir, penulis tampaknya berniat mengedit ulang cerita ini dengan layout dan ilustrasi yang baru untuk proyek amal budaya membaca. Semoga niat ini pun bisa mendapat dukungan dari sesama penulis dan ilustrator buku anak lainnya. Sayang jika kisah-kisah seperti Negeri Bawah Air berhenti sampai di sini saja.



Tung-Tung bercucuran air mata selesai membaca buku ini XD


Senin, 30 Desember 2013

0

Amira and Three Cups of Tea -- Greg Mortenson



Amira and Three Cups of Tea (kisah inspiratif keluarga AS yang mendirikan sekolah di perbatasan Afghanistan). 

Penulis  : Greg Mortenson & David Relin
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Terbitan: Qanita (Mizan Group)
Cetakan Pertama: November 2009
Harga: Rp 41.000,00
Tebal: 272 halaman


Hari ini Neko belajar satu hal dari kata-kata seorang kepala Desa Korphe (salah satu desa yang terletak di sekitar gunung K2--puncak tertinggi di dunia.) "Mungkin kami tidak berpendidikan. Tapi kami tidak bodoh. Kami telah bertahan hidup di sini dalam waktu yang lama."


Itu adalah salah satu kutipan dari buku Amira and Three Cups of Tea yang baru-baru ini Neko baca.

Kata-kata itu dikatakan Haji Ali--kepala Desa Korphe setelah Greg Mortenson mengawasi pekerjaan orang-orang desa dalam membangun sekolah pertama di desa yang letaknya agak menjorok ke jurang itu. Sebagai mandor, Greg sudah membuat semua orang menjadi gila. Begitu kata Haji Ali. Lelaki tua itu pun mengajak Greg beristirahat sejenak di rumahnya dan menyuruh lelaki Amerika yang tidak sabaran itu tutup mulut sembari mendengarkan beberapa kata bijak darinya.

Greg Mortenson yang merasa dibebani tanggung jawab oleh Jean Hoerni, penanggung dana terbesarnya, untuk segera menyelesaikan sekolah. Kalau membaca buku itu, maka pembaca bisa melihat bahwa walau baik hati dan dermawan, Jean Hoerni adalah orang yang galak dan suka mendesak. Tak heran Greg pun jadi gusar ketika pembangunan sekolah itu berjalan tidak secepat yang ia harapkan. Padahal, tentu saja ia tahu betapa sulitnya medan di sekitar lokasi untuk membangun sekolah itu. Terutama karena para lelaki yang sedianya menjadi tenaga untuk mengangkuti bahan bangunan dan membangun setiap batunya harus bekerja sebagai pemandu para pendaki gunung. Kebanyakan warga Korphe adalah orang miskin dan tidak berpendidikan. Anak-anak Korphe belajar di tengah udara dingin di luar rumah karena mereka tidak punya bangunan sekolah dan juga terlalu miskin untuk membangunnya.

Sebelum Greg Mortenson akhirnya membangun jembatan sebelum akhirnya sekolah, desa itu dipisahkan dari dunia luar oleh jurang yang menganga lebar. Pembangunan jembatan yang sangat vital itu rupanya tidak masuk perhitungan Greg sebelumnya.

Orang-orang Korphe yang tinggal menjorok ke arah jurang memerlukan jembatan itu dulu daripada sekolah. "Ya, jembatan besar dari batu," jelas Twaha (anak Haji Ali), juga dalam bahasa Inggris. "Sehingga kita bisa mengangkut sekolahnya ke Desa Korphe." (hal. 72)

Greg tentu saja kaget.

Sebelumnya, untuk bisa mencapai Desa Korphe lewat jalan biasa, orang-orang menggunakan box kayu yang digantung untuk melintasi tali di atas jurang (mungkin semacam kereta gantung versi primitif)Tak mungkin bahan-bahan bangunan dengan berat ratusan kilogram yang sudah dibeli Greg itu bisa diantarkan ke Korphe lewat box kayu itu kan?

Maka Greg terpaksa kembali lagi ke Amerika untuk mencari dana sebelum akhirnya kembali ke Korphe untuk memulai pembangunan jembatan.

Karena merasa diburu oleh waktu dan tanggung jawab, Greg tanpa sadar mungkin memperlakukan orang-orang desa yang membantunya membangun sekolah terlalu keras, sehingga akhirnya Haji Ali menegurnya secara halus.

"Mungkin kami tidak berpendidikan. Tapi kami tidak bodoh. Kami telah bertahan hidup di sini dalam waktu yang lama."

Pada saat itulah Greg Mortenson menyadari pelajaran berharga yang didapatnya dari seorang tua yang tinggal di sudut puncak tertinggi di dunia.

"Kami, orang Amerika, mengira harus menyelesaikan segalanya dengan cepat... Haji Ali mengajariku untuk berbagi tiga cangkir teh, untuk mengurangi kecepatan dan menjadikan pembangunan hubungan antar manusia sama pentingnya dengan proyek-proyek pembangunan."

Pelajaran yang ia dapat itu masih ada lanjutannya:

"Dia mengajariku bahwa ada banyak hal yang harus kupelajari dari orang-orang yang bekerja bersamaku, jika dibandingkan dengan apa yang kuharap bisa kuajarkan kepada mereka." 

Siapakah Greg Mortenson? Bagaimana dia akhirnya tergerak untuk memulai pembangunan sekolah pertama di Korphe dan selanjutnya di Pakistan, Afghanistan, dan pelosok-pelosok lain di wilayah Himalaya itu? Selengkapnya bisa dibaca di buku Amira and Three Cups of Tea. 
3

Resensi Novel Sebelas Patriot: CERMINAN PATRIOTISME DALAM LAPANGAN HIJAU



Judul Buku                : Sebelas Patriot
Penulis                        : Andrea Hirata
Penerbit                      : Bentang
Cetakan pertama      : Juni 2011
Tebal                          : 124 halaman
Harga                         : Rp 39.000,00
           
Tentunya sudah tidak asing lagi bagaimana riuhnya gegap-gempita para pendukung sepakbola tanah air pada Piala Asia (AFF) 2010 lalu. Serentak gema cinta tanah air dan nasionalisme bergaung dimana-mana. Apalagi ketika pada final turnamen, tim PSSI dihadapkan pada sang “musuh bebuyutan”, Malaysia. Maka kesebelas atlet PSSI pun seolah berubah wujud menjadi tentara-tentara Republik Indonesia yang siap mengganyang musuh. Tak peduli bahwa posisi jagoan-jagoan timnas didominasi oleh pemain-pemain impor hasil naturalisasi seperti Christian Gonzales. Seluruh nusantara dimabuk kepayang dalam euforia sepak bola tanah air.
            Novel Ketujuh Andrea Hirata yang berjudul Sebelas Patriot seolah menyambut manis fenomena di atas. Hanya saja makna dalam novel ini lebih dalam karena kecintaan sang tokoh Ikal dan ayahnya terhadap sepak bola tidak hanya didasari euforia semata. Lebih dari itu, sepakbola bagi orang-orang Melayu adalah cerminan keberanian dalam melawan kedzaliman penjajah Belanda. Andrea menjelaskannya dengan sangat dramatis pada halaman ke-6-7:
Waktu demi waktu berlalu. Tertindas di bawah penjajahan,rakyat menemukan caranya sendiri untuk melawan. Para penyelam tradisional melawan dengan membocorkan kapal-kapaldagang Belanda yang mendekati perairan Belitong. Para pemburu melawan dengan meracuni sumur-sumur yang akan dilalui tentara Belanda. Para imam membangun pasukan rahasia di langgar-langgar. Para kuli parit tambang melawan dengan sepakbola.

            Dan cerita heroik akan perjuangan buruh-buruh timah Melayu semasa kolonialisme Belanda, yang mungkin tidak akan pernah dicatat dalam buku-buku diktat sejarah sekolah bermula ketika Ikal menemukan selembar foto usang. Foto seorang pemuda gagah berwajah sedih yang tengah memakai seragam sepak bola dan memegang piala. Mengapa orang itu tidak terlihat gembira walau menggenggam piala kemenangan? Siapa gerangan pemuda itu? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak Ikal dan membawanya dalam pencarian sejarah buruh-buruh timah Belitong di masa kolonial.
Diceritakan bahwa kekejaman dan diskriminasi Belanda terhadap pribumi pun sampai dibawa-bawa ke kancah olahraga. Distric beheerder Van Holden yang membawahi wilayah ekonomipulau Bangka dan Belitong mengadakan berbagai pertandingan olahraga yang menjadi ironi. Ironi karena pertandingan itu harus diikuti orang-orang pribumi dalam rangka memperingati hari ulangtahun seorang ratu dari negara yang sudah menghisap habis kekayaan alam dan harkat hidup mereka. Peraturan dasar dalam pertandingan itu sudah jelas: orang pribumi diharamkan untuk menang jika melawan tim Belanda. Jika hukum ini dilanggar, jelas hukuman mengerikan diasingkan ke tangsi dan dibuat cedera seumur hidup, membayangi para atlet pribumi saat itu. Politisasi olahraga ternyata sudah berlangsung sejak zaman colonial ratusan tahun lalu. Mungkin dari sanalah para elit politik kita belajar.
Di tengah olahraga yang telah dipolitisasi dan tekanan batin olahragawan lokal itulah tersebar berita tentang tiga anak muda, para kuli parit tambang, yang lihai bermain bola. Mereka bersaudara, dipaksa menggantikan almarhum Bapak mereka untuk bekerja rodi sejak belasan tahun. Si sulung berlaku sebagai gelandang, si tengah berperan sebagai penjaga sayap kanan, dan si bungsu adalah pemain sayap kiri yang memiliki tendangan halilintar.  Di lapangan sepak bolalah satu-satunya tempat dimana mereka bisa dengan merdeka mengekspresikan jiwa di tengah getirnya suasana penjajahan. Mereka kemudian dipanggil untuk memperkuat tim Belanda, tapi menolak hingga akhirnya dibuang ke tangsi untuk membangun mercusuar. Kemudian pada tahun 1945 kedudukan Belanda mulai terancam. Ketiga saudara itu dikembalikan untuk bekerja di parit tambang. Tanpa  menghiraukan larangan Belanda untuk bertanding dan hukum ‘pribumi dilarang menang’, ketiga bersaudara itu maju dan memporak-porandakan pertahanan tim Belanda. Saat itu untuk pertama kalinya orang-orang Melayu dapat mempermalukan dan menggilas kaum penjajah. Ribuan penonton Indonesia pun menyambut si bungsu yang berhasil mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan heroik itu. Dengan lantangnya, si bungsu berseru, “Indonesia! Indonesia!”
Namun, patriotisme itu harus dibayar mahal. Sang pelatih dan tiga bersaudara itu ditangkap, dikurung di tangsi, dan dikembalikan dengan fisik hancur. Tempurung kaki kiri si bungsu dihancurkan dan untuk selamanya ia tak bakal bisa bermain sepakbola lagi. Foto yang dipegang Ikal itu adalah foto si bungsu setelah memenangkan piala Van Holden. Dan betapa terkesimanya Ikal ketika tahu bahwa si bungsu itu ternyata adalah…
Tentunya akan lebih seru jika pembaca mengetahuinya dari buku aslinya. Seperti novel-novelnya yang terdahulu, novel tipis ini juga sarat akan pelajaran hidup dan motivasi. Sosok pemuda yang mempelajari sejarah dan menghargainya tercermin jelas dalam sosok ikal. Patriotisme dan heroism terlihat jelas dari cerita tentang Legenda Tiga Bersaudara. Pertandingan sepakbola pun bisa menjadi cerita kepahlawanan di tangan pemimpi keriting asal Belitong ini.
Kita pun juga akan dibuat terharu tentang bagaimana Ikal berusaha mencari nafkah sampai rela bekerja kasar demi membeli kaos asli Luis Figo bertanda tangan di Real Madrid, demi sang ayah tercinta yang diam-diam menggemari pemain Portugis itu di samping pemain-pemain PSSI. Kisah ini mengingatkan peresensi akan film The Terminal. Di film itu, Tom Hanks terlunta-lunta di bandara Amerika, setelah melakukan perjalanan jauh demi melengkapi tanda tangan pemain band jazz koleksi ayahnya. Sehingga tentu saja pembaca boleh berharap-harap bahwa kisah dari novel ini pun bisa segera diangkat ke dalam media audio-visual. Dan melihat promosi kover novel berjudul Ayah di akhir novel, bisa jadi novel tipis ini menjadi pengantar dari terbitnya kisah yang lebih lengkap lagi. Sama seperti novel Maryamah Karpov yang menjadi pengantar kisah Dwilogi Padang Bulan.
Novel ini dilengkapi dengan CD berisi 3 buah lagu, “Sebelas Patriot”, “PSSI Aku Datang”, dan Sorak Indonesia” yang syair-syairnya juga sangat heroik. Cocok didengarkan sambil membaca novel ini sehingga pembaca bisa semakin menghayati untaian kisahnya. Andrea Hirata menggubah sendiri lagu-lagu itu bahkan menjadi lead guitar dalam Band The Gila Bola asal Belitong yang dirangkul Andrea untuk menyajikan 3 lagu ini ke telinga penggemarnya.
Kita tahu bahwa keberadaan PSSI dikotori oleh bermacam isu politik. Apa yang sejatinya menjadi ajang olahraga untuk dinikmati ternyata bisa menjadi hal yang lain di mata para elit politik. Kejayaan PSSI pun kian tenggelam. Buktinya ketika pertandingan melawan Bahrain dan Qatar lalu, tim Christian Gonzales dicukur habis. PSSI makin dicaci dan dihujat di tanah air. Ironisnya dukungan para suporter pada timnaspun ikut-ikutan loyo, mengikuti performa timnas itu sendiri. Pada pertandingan Indonesia vs Qatar lalu PSSI harus menanggung rugi karena banyaknya tiket yang dicetak tak sebanding dengan sepinya pembeli. Ditinggal suporter karena sering kalah akhir-akhir ini, maka apakah masih bisa kita menggembar-gemborkan semangat nasionalisme dalam sepakbola? Tampaknya kita harus malu pada kesederhanaan dua orang laki-laki dari Belitong, Ikal dan ayahnya, yang dengan setia tetap mendukung PSSI, kalah atau menang.

Satu hal yang sangat menggelitik, ternyata Andrea Hirata pernah mencoba jadi pemain PSSI? Apa sih yang belum pernah dicoba si Kriting yang satu ini? 
0

The Beautiful Child -- Venus: Duka Lara si Gadis Cantik -- Torey Hayden

Venus: Duka Lara si Gadis Cantik, atau terjemahan dari The Beautiful Child adalah buku kedua Torey Hayden yang kusambar dari perpustakaan kota.



Judul: Venus: Duka Lara Si Anak Cantik
Penulis: Torey Hayden
Penerbit: Qanita (Mizan Group)
Cetak: Juni 2004
Harga: Rp 44.000,00
Tebal: 612 halaman

Berikut ringkasan ceritanya :

Tantangan yang dihadapi Torey kali ini adalah Venus. Tak jelas apa yang diderita anak ini - bisa jadi dia tunarungu, menderita kerusakan otak, atau kelainan mental. Yang pasti, keadaannya hampir-hampir katatonik - layaknya tanaman, dia hidup tapi tidak merespons orang-orang di sekelilingnya. Teman-teman sesama guru yang mengenal keluarga besar Venus yang berantakan (Ibunya mantan pelacur dengan 9 orang anak dan seringkali berganti-ganti pasangan. Beberapa orang anaknya berkebutuhan khusus dan beberapa lagi ada dipenjara) memperingatkan Torey untuk tidak terlalu banyak berharap pada muridnya yang satu ini. Namun, seperti biasa Torey tak kenal kata menyerah.

Kesabaran dan dedikasi Torey membuahkan hasil ketika gadis tujuh tahun itu menunjukkan minat pada tokoh komik She-Ra, Sang Dewi Kekuatan. Dari situlah kisah-kisah yang melatari keadaan Venus mulai terkuak -- kisah-kisah yang hampir tak tertanggungkan oleh Torey, di tengah keharusan menghadapi persoalan murid-muridnya yang lain dan seorang asisten dengan prinsip pengajaran yang benar-benar berseberangan dengannya (Julie). Dan ketika jemari kaki Venus harus diamputasi hipotermia, terkuaklah peristiwa mengerikan yang selalu dialami Venus dalam keluarganya. Dokter yang memeriksa Venus menemukan banyak sekali luka dan beberapa tulangnya menunjukkan pernah patah, selain itu ditemukan bekas ikatan di kedua tangannya. Kemudian, Venus menderita Hipotermiapun karena dipaksa untuk tidur di kamar mandi tanpa pakaian dengan suhu di bawah 0 derajat selama berbulan-bulan. Sungguh mengenaskan.

Berikut ini adalah beberapa gambaran tokoh-tokoh dalam buku tersebut :

1. Billy : Berusia 9 thn, mempunyai agresifitas liar, kelebihan tenaga, terlalu percaya diri, selalu berkomentar dengan lancang, dan temperamen yang meledak-ledak. Awalnya ia adalah tokoh paling memuakkan. Ia selalu membantah Torey, mengumpat-umpat dan mengejek Venus dengan julukan cewek psiko. Belakangan kemudian baru diketahui bahwa Billy ternyata termasuk anak jenius dengan IQ 140. Karakter Billy ini kemudian justru menjadi karakter favoritku di sini. Terutama setelah ia bersahabat dengan Jesse dan lalu dengan polosnya berkata bahwa kelas Torey adalah kelas terbaik baginya. Dengan mengesampingkan kelancangannya, beberapa pendapat Billy tentang ras kulit hitam dan putih dan juga tentang hal lain memang benar-benar mencerminkan kecerdasannya yang di atas rata-rata. Pelan tapi pasti ia berkembang menjadi karakter yang lebih simpatik dan berempati terhadap karakter lainnya terutama Jesse.

2. Jesse : Berusia 8 thn, menderita syndrome tourette (kontraksi otot berulang-ulang yang tak terkendali).  Jika panik, merasa terancam atau jengkel, otot-ototnya akan semakin mengejang tidak terkendali dan ia mengelurkan dengkingan suara yang sangat mengganggu. Syndrome tersebut menyebabkan Jesse amat terbelakang dalam akademik, walaupun sebenarnya IQ Jesse baik-baik saja. Jesse amat mudah marah dan bisa jadi sangat mengerikan bila sudah menyerang. Akhirnya ia bersahabat dengan Billy.

3. Shane dan Zane : Keduanya kembar identik dan berusia 6 thn, menderita FAS (Fetal Alcohol Syndrome - Syndrome alkohol janin yang disebabkan sang ibu yang terlalu banyak meminum alkohol saat mengandung). FAS mengakibatkan Shane dan Zane mempunyai fisik yang kecil bak peri, IQ dibawah rata-rata, hiperaktif dan gangguan konsentrasi parah.
4. Gwennie : Menderita HFA (Hight Function Autism - Autisme fungsi tinggi), obsesi berlebihan dengan negara-negara asing, mengoleksi pinsil berwarna kuning, peka terkadap rangsangan visual dan auditory tetapi cerdas dalam akademik. Dia bergabung di pertengahan tahun ajaran baru. Ia sangat hapal fakta-fakta geografis, kultural dan sejarah semua negara-negara asing! (Kau tahu kadang aku sangat iri dengan anak-anak autis. Mereka dilahirkan untuk jadi orang-orang yang super secara intelejensi!)

5. Alicia : Ia anggota paling terakhir kelas ini, menggantikan Gwennie yang pergi tak lama setelah ia masuk. Berumur 8 thn, Berbicara dengan Mimi (tangan kanannya) dan cenderung untuk mengucapkan kalimat-kalimat aneh. Keberadaannya kemudian terbukti sangat membantu Torey karena ia gemar berbicara secara intens dengan Venus walau komunikasi yang terjadi tentu saja lebih sering satu arah. Ia bersahabat dan memperlakukan Venus dengan sangat baik.

 Buku ini benar-benar membuktikan kesabaran Torey sebagai guru yang patut diacungi jempol. Sekali lagi aku benar-benar kagum dengan kemampuan manajemen kelas Torey. Semenjengkelkan apapun muridnya, ia selalu berhasil memegang kendali dan diakui superioritasnya oleh murid-murid badungnya. Ia tak mudah putus asa mencoba satu metode lalu metode lainnya, agar kelasnya yang penuh dengan tukang berkelahi itu bisa bersatu. Akhirnya, metode modifikasi perilaku dengan menggunakan sistem lampu lalu lintas dan pemberian poster merah, kuning, hijau sebagai peringatan hukuman dan hadiah yang membuat para anak didiknya lambat-laun mulai bisa mengendalikan dirinya.

Namun, bagaimanapun Torey hanyalah manusia biasa. Di dalam cerita ini ia menceritakan bahwa ia justru tidak bisa menghadapi asistennya sendiri Julie, yang memiliki pandangan nilai-nilai yang bertentangan. Tidak, Julie bukan tipe pemarah yang menyebalkan, sebaliknya Torey justru tidak tahan dengan sikapnya yang seperti Santa dan terkesan permisif dalam menanggapi kenakalan anak-anak. Hehehe...aku senyam-senyum sendiri pas membaca ketegangan khas antara karakter Torey yang koleris-sanguin dengan Julie yang jelas-jelas mellow-phlegmatis.
0

Just Another Kid- Murid Istimewa: Jerit Lirih Seorang Sahabat --- Torey Hayden

Belakangan ini aku menderita writer's block yang sangat parah. Aku tidak bisa melanjutkan cerpen lamaku atau membuat cerpen baru. Sementara beberapa karya teman-teman FLP ku mulai bermunculan di media massa dan bahkan ada yang sudah bisa menembus KOMPAS! Aku benar-benar frustasi dan mulai belajar menerima mungkin ini adalah fase bagiku untuk membaca dan mengumpulkan referensi. Dulu mungkin aku bisa berbangga karena misalnya bisa membuat cerpen-cerpen lengkap yang memenangkan lomba hanya dengan ide yang kudapat dari satu kalimat sebuah cerpen Seno Gumirah Adi Dharma. Dulu ide begitu membanjir datang dan pergi, tapi sekarang? Well, it's time to learn, Girl.


Rasa frustasiku ini membuatku ingin memakan dan mengunyah buku bulat-bulat! Model foto: Cempluk


Entah kenapa kemudian aku tertarik untuk membaca lagi karya-karya Torey Hayden. Torey Hayden adalah pakar psikologi pendidikan serta guru bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sejak 1979, Torey mencatat perjuangannya dalam mengajar menjadi buku-buku yang mendapat sambutan luas. Di antara buku-bukunya adalah Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil, Sheila: Kenangan yang Hilang, Jadie: Tangis Tanpa Suara, Kevin: Belenggu Masa Lalu, dan Murid Istimewa: Jerit Lirih Seorang Sahabat, kelimanya diterbitkan Qanita dan menjadi best-seller.

Padahal, yeah tahu sendiri kan kalau buku-buku Torey Hayden itu nggak ada yang tipis dan tulisannya kecil-kecil pula. Dulu aku memang menganut paham "baca buku kalau nggak tebal itu rugi", tapi akhir-akhir ini aku malas membaca buku-buku berat dan lebih suka yang tipis atau bahkan komik. Buku-buku Torey sendiri semuanya menceritakan tentang anak-anak dalam kelas inklusi (kebutuhan khusus), dan jelas nggak bisa dijadikan topik skripsi olehku yang sedang menempuh pendidikan bahasa Inggris reguler. Jadi aku nggak tahu kenapa, aku langsung menyambar buku ini dari rak perpustakaan kota dan sekarang malah ketagihan untuk membaca buku-buku-buku Torey lagi dan lagi. Dulu sekali aku pernah menamatkan buku Sheila seri pertama dan kedua, itu sudah lama sekali, waktu aku masih SMA.



Anyway ketika aku memutuskan untuk membaca karya-karya Torey lagi, buku inilah yang pertama kusambar. Murid Istimewa, terjemahan dari Just Another Kid memuat kisah-kisah pengalaman Torey dalam mengajar kelas terakhirnya sebelum kemudian pindah ke Wales, berhenti jadi guru dan menikah. Pengalaman mengajar yang terakhir ini hampir sama seperti yang sudah-sudah. Sekitar lima anak lelaki dan perempuan dengan berbagai masalah berkumpul dalam satu ruang kelas dan membuat kekacauan. Kenyataan ini semakin diperparah karena Torey tidak memiliki asisten hingga pertengahan buku.




Judul: Murid Istimewa: Jerit Lirih Seorang Sahabat
Penulis: Torey Hayden
Penerbit: Qanita (Mizan Group)
Cetak: Maret 2004
Harga: Rp 54.500,00
Tebal: 752 halaman


Anak-anak dalam kelas terakhir Torey adalah:

1. Mariana, gadis berumur 12 tahun yang memiliki kecenderungan seksual yang tinggi.
2. Dirkie, anak laki-laki pengidap schizofrenia yang sukar diatur dan akan masturbasi setiap kali ia merasa terancam oleh lingkungannya.

3. Dua gadis bersaudara korban konflik antara Kristen Ortodoks dan Protestan di Irlandia, Geraldine dan Shemona. Geraldine yang lebih tua awalnya terlihat seolah sebagai anak paling normal dan biasa dalam grup bermasalah ini. Namun, ternyata justru ialah yang tingkahnya paling merepotkan Torey. Suka memanipulasi dan bermanis-manis padahal ia tidak memiliki empati terhadap orang lain, gemar mencuri barang dan menindas anak-anak lain yang lebih kecil, merampas barang mereka tanpa merasa bersalah. Karena perilaku terlalu dominannya, adiknya Shemona tidak mau berbicara dan menutup diri. Ia terang-terangan berkata bahwa ia membenci orang protestan, pendendam dan bersikap seolah dirinya selalu dikelilingi konflik yang tidak jauh berbeda dengan di Irlandia. Mendekati akhir cerita, bahkan ia menyalib dirinya sendiri di lantai! Parah banget deh! 

Aku benar-benar salut pada Torey yang bisa bertahan menjadi guru anak ini selama beberapa tahun tanpa berusaha mencekiknya. Dalam epilog diceritakan bahwa Geraldine adalah satu-satunya karakter yang tidak mengalami perkembangan perilaku ke arah yang lebih positif dan kemudian menghabiskan hidupnya dalam tempat perawatan bagi orang-orang yang mentalnya terganggu di Irlandia Utara

Shemona sebaliknya menjalani kehidupannya dengan lancar dan kemudian berhasil lulus dari universitas, sempat berkarir sebagai guru dan sekarang bekerja di penerbitan buku ajar.

4. Leslie seorang anak yang menderita gangguan autistik yang cukup parah. Awalnya Torey benar-benar kerepotan menghadapi Leslie karena Leslie sama sekali tak mau berpartisipasi dalam kelas dan satu-satunya yang dilakukan gadis kecil ini adalah ngompol atau berak di popoknya. Torey sangat frustasi karena ia tidak bisa memberi perhatian kepada murid-murid yang lain karena ia harus menangani Leslie. Itu juga diperparah dengan penyakit diabetes Leslie, sehingga jadwal makanannya sangat ketat dan siapa lagi yang bisa mengawasinya saat waktu sekolah kalau bukan Torey.

5. Shamie, anak lelaki ini baru bergabung di pertengahan tahun ajaran baru. Dia adalah sepupu Geraldine dan Shemona. Shamie digambarkan sebagai seorang anak yang tampan dengan potongan rambut yang buruk. Perilaku dan kemampuan akademisnya tidak terlalu parah dan aku menganggapnya sebagai oase di tengah kekacauan kelas. Ia tidak mahir dalam matematika tapi sangat menakjubkan dalam pelajaran sejarah. dan kesenian. Ladbrooke, asisten Torey yang sangat jelita berhasil menggabungkan kesenian, sejarah, dan matematika untuk mengajari Shamie seperti ketika mereka membuat replika kastil jaman abad pertengahan. Dia berhasil kembali ke kelas reguler dan terus membuat kemajuan hingga akhirnya berhasil kuliah dengan beasiswa olahraga. Bahkan kemudian menjadi pujaan para gadis karena ketampanan dan kebaikan hatinya. Hmm...jadi penasaran orang aslinya kayak apa hehehehe...

6. Ladbrooke, well yang terakhir ini adalah "murid paling tua" dalam kelas Torey. Sebenarnya dia adalah seorang ahli fisika jenius, sangat cantik, berambut pirang dan ibu dari Leslie. Kesan pertama yang didapatkan oleh orang-orang yang baru bertemu dengannya adalah JUDES. Ia sangat tertutup dan pelit dengan kata-kata sehingga mudah baginya untuk dicap sebagai orang yang sangat sombong. Suaminya, Tom adalah seorang pelukis eksentrik yang karakter ramahnya berkebalikan 180 derajat dengannya. Torey mulai bersitegang dengan karakter ini ketika ia sering menjemput Leslie dalam keadaan mabuk. Padahal, ia menyetir mobil. Ia bahkan pernah mengancam akan menuntut Torey ke pengadilan karena melarangnya mengantar Leslie pada suatu ketika. Padahal, Torey melakukannya karena wanita ini sedang mabuk.

Pada akhirnya, setelah sebuah insiden (ia muntah dan ambruk di kelas Torey), sikapnya mulai melunak dan bahkan menawarkan diri dengan sukarela untuk menjadi asisten Torey. Pada akhirnya setengah dari buku ini justru banyak bercerita tentang masa lalu Ladbrooke, perjuangannya yang jungkir balik dalam mengatasi ketergantungan alkohol yang parah. Rasa takutnya akan orang lain dan ketidakmampuannya untuk mengungkapkan pikiran dengan bebas terutama kepada orang baru. Image Ladbrooke yang awalnya digambarkan seperti Ratu Salju yang angkuh pun langsung lumer dan berganti kesan menjadi seorang wanita rapuh dengan pengendalian diri dan emosi yang sangat parah. Imej ini kemudian diperbaiki karena ialah yang berhasil membuat Shemona melepaskan diri dari kebisuannya.

Torey sendiri dalam situsnya, mengaku ia tak menyangka bahwa kemudian buku ini justru bercerita tentang Ladbrooke. Ia khawatir penerbit dan pembaca tidak akan menyukainya. Tapi toh yang terjadi adalah sebaliknya. Walaupun begitu, aku kurang menyukai buku ini justru karena menurutku proporsi curhatan Ladbrooke akan masa lalunya yang kelewat over.